
Banyuwangi, Madzirnu — Semangat ukhuwah Islamiyah dan dzikir bersama kembali menggema dalam kegiatan rutin Majlis Dzikir Nusantara (Madzirnu) yang kali ini digelar di Pondok Pesantren Baitul Maqhfiroh, Srono, Banyuwangi. Acara yang berlangsung pada hari Ahad Legi (4/5) ini merupakan pertemuan ke-10 dan dihadiri oleh ratusan jamaah dari berbagai wilayah di Banyuwangi.
Kegiatan dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan pelaksanaan Shalat Dhuha berjamaah, dilanjutkan dengan pembacaan Asmaul Husna, menghadirkan suasana religius yang khusyuk dan penuh keberkahan. Acara dipandu langsung oleh KH. Imam Sahrowardy dari Gendoh, yang dengan penuh khidmat memimpin jalannya kegiatan.
Dalam sambutannya, KH. Ahmad Nurhan Albanani, selaku pengasuh Ponpes Baitul Maqhfiroh dan tuan rumah kegiatan, menyampaikan harapan agar Madzirnu dapat terus berkembang menjadi wadah silaturahmi dan penguatan nilai-nilai keislaman. Ia juga menekankan pentingnya pendidikan santri sebagai pondasi utama dalam mencetak generasi yang berakhlak dan berilmu.





Turut hadir memberikan tausyiah adalah KH. Imam Syafi’i, pengasuh Ponpes Darulfalah Kendal Singojuruh, yang menyampaikan pesan-pesan keimanan dan pentingnya istiqamah dalam ibadah. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengingatkan, “Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah SWT, dan menjadi manusia yang taat pada ketentuan-Nya.”
KH. Joko juga turut memberikan nasihat spiritual yang menggugah hati para jamaah. Suasana semakin syahdu ketika dilangsungkan pembagian Al-Qur’an dan payung kepada sejumlah jamaah terpilih sebagai bentuk simbolik perhatian terhadap dakwah dan perlindungan fisik dan spiritual.
Pengajian Majlis Dzikir Nusantara ini dihadiri oleh jajaran pengurus Madzirnu, termasuk ketua umum Mohammad Maftuh, serta para ulama dan tokoh masyarakat ternama, seperti KH. Nurudin (Bangorejo), KH. Syain (Bangorejo), KH. Abdul Hadi (Tegalsari), KH. Abdul Kholiq (Pondok Nongko Kabat), KH. Dardiri (Wadung), dan tokoh-tokoh ulama lainnya.
Dengan semangat kebersamaan dan cinta terhadap ilmu serta dzikir, kegiatan ini menjadi bukti hidupnya tradisi pengajian dan majelis ilmu di Bumi Blambangan. Diharapkan, Madzirnu akan terus menjadi motor penggerak dakwah dan ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
